Tata Tertib Kelas SMA Negeri 27 Bandung

kop SMAN 27

TATA TERTIB KELAS

 

  1. Setiap peserta didik wajib hadir di sekolah, 10 menit sebelum waktu belajar jam pertama dimulai.
  2. Setiap hari sebelum KBM  diadakan doa bersama dipimpin oleh KM dan atau yang ditunjuk
  3. Membaca Al-Qur’an, surat-surat pendek atau Asmaul Husna secara bergiliran setiap hari
  4. Membaca do’a dalam hati atau diucapkan.
  5. KM dibantu seksi absensi, memeriksa, mengabsen kehadiran peserta didik dan menuliskan di buku agenda dan melaporkan ke Guru Piket.
  6. Peserta didik yang telat mengikuti jam pelajaran, wajib melapor kepada Guru Piket, setelah mendapat ijin, masuk ke ruangan belajar dengan menunjukkan surat dari Guru Piket kepada Guru mata Pelajaran di kelas. Peserta didik dapat mengikuti pelajaran setelah mendapat ijin dari Guru Mata Pelajaran di kelas.
  7. Peserta didik yang melanggar Tata Tertib Sekolah, dapat mengikuti pelajaran setelah mendapat surat dari Kepala Sekolah, Wakasek dan atau Guru Piket.
  8. Setiap KBM, peserta didik wajib turut serta menciptakan kelas yang tenang, dinamis, kondusif tidak menciptakan keonaran,
  9. Melaporkan keadaan dirinya, bila dalam melakukan kegiatan belajar mendapat hambatan kepada Guru.
  10. Apabila peserta didik memiliki kepentingan keluar ruangan belajar, wajib meminta ijin kepada Guru pada jam berikutnya.
  11. Setiap pergantian jam pelajaran  korve/piket membersihkan kelas, papan tulis dan menyediakan alat-alat yang dibutuhkan pada jam pelajaran selanjutnya.
  12. Apabila guru Mata Pelajaran berhalangan hadir mengajar di kelas, KM dan staf, wajib meminta petunjuk kepada Guru Piket, dan melaksanakan tugas sesuai dengan arahan, bimbingan guru Piket.
  13. Setelah jeda sitirahat KM dibantu seksi absensi memeriksa kehadiran peserta didik dan melaporkan ke Guru Piket setelah mencatatnya di agenda kelas.
  14. Apabila sebelum jam pelajaran selesai, peserta didik ada keperluan meninggalkan jam pelajaran, wajib meminta ijin kepada Guru mata Pelajaran di kelas, Guru Piket, dan Wakasek.
  15. KM dan staf wajib meangamankan agenda kelas, setiap akhir jam pelajaran membawanya ke Guru Piket, setelah diisi lengkap.
  16. Apabila terdapat jam pelajaran yang kosong, peserta didik dilarang berkeliaran apalagi bermain sepakbola, basket dan atau tindakan lainnya. Peserta didik sebaiknya belajar secara mandiri atau berkelompok.
  17. Apabila membawa barang berharga, uang, emas, hp, agar dibawa terus jangan ditinggalkan dalam tas.
  18. Setiap akhir jam plejaran, KM memimpin peserta didik berdoa bersama, dan memberikan salam kepada Guru secara sopan dan ramah. Sebelum meninggalkan kelas periksa kembali barang bawaan masing-masing, dan sampahnya di buang ketempat yang disediakan.

 

Ditetapkan di              : Bandung

Tanggal                       : 14 Juli 2013

Kepala Sekolah,

Yanyan Supriatna RS., S.Pd

NIP. 19640215 198903 1 010

SMAN 27 Bandung Jadi Sekolah Perintis Sadar Hukum di Jabar

SMAN 27

SMA Negeri 27 Bandung

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — SMA Negeri 27 Kota Bandung dicanangkan sebagai Sekolah Perintis Forum Pelajar Sadar Hukum di tingkat Provinsi Jawa Barat.

IMG_8743

SMA Negeri 27 Bandung

Rintisan Forum Pelajar Sadar Hukum ini dilatarbelakanginya perilaku menyimpang dan perbuatan negatif yang melanggar aturan atau biasa disebut kenakalan remaja.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jabar I Wayan Kadusak mengatakan, untuk menetapkan suatu sekolah menjadi sadar hukum harus memenuhi kriteria diantaranya terdapat Forum Pelajar Sadar Hukum, bebas dari narkotika dan obat-obatan terlarang, tidak ada tawuran dan pungutan liar.

“Juga tidak ada bullying, perbuatan menjiplak, ketaatan terhadap peraturan lalu lintas, dan tingginya kesadaran terhadap kebersihan dan pelestarian lingkungan,” kata dia saat pencanangan Sekolah Perintis Forum Pelajar Sadar Hukum di Jabar, Selasa (24/9).

Untuk itu, pihaknya mengaku terus menerus melakukan kerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jabar dan juga perguruan tinggi di Jabar.

Kepala Sekolah SMAN 27 Yanyan Supriatna mengungkapkan, di setiap kelas mempunyai kelompok sadar hukum yang dibina Fakultas Hukum Unpas dan Kemenhumham Jabar.

Kelompok atau forum ini diharapkan dapat meminimalisir kenakalan remaja dan untuk dirinya sendiri. Pembinaan ini, kata dia, diharapkan dapat memberi keteladanan baik kepada guru, murid, staf sekolah dan lingkungan di sekitarnya.

“Sehingga Bandung menjadi kota yang sadar hukum, bermartabat dan juara,” kata dia.

Pengurus Forum Sekolah Sadar Hukum, Idgom dan Trinesia mengatakan, forum ini bukanlah ajang menghapal pasal per pasal. Ia mengatakan, forum ini bagaimana memupuk siswa untuk berinteraksi dengan teman-teman dan lingkungan.

“Bagaimana kita untuk sadar hukum yang paling kecil misalnya tidak merokok dan tawuran,” kata dia.

Menteri Hukum HAM Amir Syamsudin merasa bangga dengan apa yang dilakukan oleh SMAN 27 Bandung. Ia berharap, sekolah-sekolah lain dapat mencontoh dan menjadi sekolah sadar hukum.

“Patut diacungi jempol karena kriteria sekolah sadar hukum ini belum tentu dapat dipenuhi oleh orang dewasa sekalipun,” kata dia.

Jadwal Ektrakurikuler SMAN 27 Tahun Pelajaran 2013

kop SMAN 27

JADWAL KEGIATAN KSTRAKURIKULER

SMA NEGERI 27 BANDUNG

TAHUN PELAJARAN 2013/2014


NO

KEGIATAN EKSTRA KURIKULER

HARI

KETERANGAN

1.

Pramuka Sabtu

10.30  -  11.30

2.

Palang Merah Remaja Sabtu

10.30  -  11.30

3.

Paskibra Sabtu

10.30  -  11.30

4.

Futsal Senin/Kamis

09.00  -  10.30/

15.30  -  17.00

5.

Bola Voly Sabtu

15.30  -  17.00

6

Bola Basket Selasa/Kamis

09.00  -  10.30/

15.30  -  17.00

7.

Sepak Bola Selasa/Sabtu

09.00  -  10.30/

15.30  -  17.00

8.

Robotik Selasa

09.00  -  10.30/

15.30  -  17.00

9.

Tarung Derajat (Boxer) Senin/Rabu

09.00  -  10.30/

15.30  -  17.00

10.

Merpati Putih Rabu/Sabtu

09.00  -  10.30/

15.30  -  17.00

11.

Pencak silat Rabu

09.00  -  10.30/

15.30  -  17.00

12

Seni Teater Kamis

09.00  -  10.30/

15.30  -  17.00

13.

Seni Musik Kamis

09.00  -  10.30/

15.30  -  17.00

14

Seni Tari /Dance Kamis

09.00  -  10.30/

15.30  -  17.00

15

Marching Band Sabtu

09.00  -  10.30

16

ROHIS Jum’at

10.30  -  12.00/

15.30  -  17.00

 

 

 

Bandung,      Agustus 2013

Wakasek Kesiswaan,

Drs. Sarip Rustandi, M.M.

NIP. 19650102 199512 1 002

Kemdikbud Segera Laksanakan Gerakan Antiputus Sekolah

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan segera melaksanakan program gerakan antiputus sekolah bagi pelajar sekolah dasar hingga sekolah menengah atas melalui pemberian beasiswa secara terus-menerus.

 “Saat ini, angka putus sekolah di Indonesia masih relatif cukup tinggi sehingga perlu ada gerakan yang didukung oleh seluruh pihak terkait, baik melalui pendekatan progra

m maupun sosial,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, di Banjarmasin, Sabtu (9/2/2013).

Pendekatan program dimaksud, kata dia, antara lain dengan memberikan beasiswa bagi anak-anak dari keluarga miskin mulai SD hingga SMP bahkan SMA. Selama ini, anak-anak yang mendapatkan beasiswa di SD masih merasa khawatir kalau melanjutkan ke SMP atau SMA, tidak memiliki jaminan mendapatkan beasiswa kembali, jelas Mendikbud.

Kekhawatiran tersebut, kata dia, membuat angka putus sekolah–mulai tingkat SD hingga SMA–masih relatif sangat tinggi, apalagi yang bisa melanjutkan ke perguruan tinggi, angkanya masih sangat jauh.

Mendikbud menggambarkan, pada tahun 2007, dari 100 persen anak-anak yang masuk SD, yang melanjutkan sekolah hingga lulus hanya 80 persen, sedangkan 20 persen lainnya putus sekolah.

Dari 80 persen yang lulus SD, hanya sekitar 61 persen yang melanjutkan ke SMP maupun sekolah setingkat lainnya, kemudian dari jumlah tersebut yang sekolah hingga lulus hanya sekitar 48 persen.

“Tentu ini adalah jumlah yang sangat memprihatinkan, mengingat pendidikan SD–SMP merupakan pendidikan dasar yang seharusnya dimiliki oleh seluruh generasi muda Indonesia saat ini,” katanya.

Sementara itu, dari 48 persen tersebut, yang melanjutkan ke SMA tinggal 21 persen dan berhasil lulus hanya sekitar 10 persen, sedangkan yang melanjutkan ke perguruan tinggi hanya sekitar 1,4 persen.

Selanjutnya, berdasarkan penelitan pada tahun 2011, terjadi sedikit peningkatan anak yang melanjutkan ke SMP dari 61 persen menjadi sekitar 70 persen, dan yang masuk perguruan tinggi menjadi 4,4 persen.

Menekan angka putus sekolah tersebut, kata dia, perlu gerakan serempak, bukan hanya dilakukan oleh pemerintah kabupaten, provinsi, maupun pemerintah pusat, melainkan juga oleh guru, kepala sekolah, dan pihak sekolah lainnya.

Setiap sekolah, kata dia, harus memiliki data anak didikinya, dan mengawal mereka hingga lulus sekolah dan melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Bila ada yang tidak melanjutkan, kepala sekolah atau guru wajib mendatangi ke rumahnya dan mengantarkan langsung untuk mendaftar ke sekolah yang diinginkan karena telah ada jaminan beasiswa yang secara otomatis berkesinambungan.

“Jemput anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah dan antar serta daftarkan, ini adalah tanggung jawab sosial kita,” katanya.

Menurut Nuh, pendidikan merupakan ja

lur terbaik untuk memperbaiki kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat karena biasanya anak miskin yang tidak sekolah akan menikah dengan orang miskin juga, yang pada akhirnya juga akan melahirkan anak-anak yang lebih miskin.

“Rantai kemiskinan ini yang harus kita

putus melalui pendidikan,” kata Nuh.

Sumber: antara

http://www.lazuardibirru.org/gurupencerah/berita-gurupencerah/kemdikbud

Guru dan Perubahan

Oleh Rhenald Kasali

KOMPAS.com – Tak dapat disangkal, guru merupakan sosok penting yang mengawal perubahan di awal abad XXI.

Guru berpikir jauh ke d epan, bukan terbelenggu ilmu masa lalu, sebab tak banyak orang yang melihat anak-anak telah hidup di sebuah peradaban yang berbeda dengannya. Sementara kurikulum baru yang belum tentu sempurna sudah dihujat, kaum muda mengatakan kurikulum lama sudah tidak relevan mengisi masa depan mereka.

Untuk pertama kali dalam sejarah, dunia kerja dan sekolah di- isi empat generasi sekaligus, generasi kertas-pensil, generasi komputer, generasi internet, dan generasi telepon pintar. Terjadi celah antargenerasi, ”tulis dan temui saya” (generasi kertas), ”telepon saja” (generasi komputer), ”kirim via surel” (generasi internet), tetapi generasi terbaru mengatakan, ”Cukup SMS saja”. Yang tua rapat dengan perjalanan dinas, yang muda pakai skype.

Generasi kertas bersekolah dalam sistem linier terpisah-pisah antarsubyek, sedangkan kaum muda belajar integratif, lingkungannya dinamis, bersenang- senang, dan multitasking. Sekolah bahkan tidak lagi memisahkan kelas (teori) dari lab.

Lewat studinya, The Institute for the Future, University of Phoenix (2012), menemukan, kaum muda akan mengalami usia lanjut yang mengubah peta belajar dan karier. Mereka pensiun di usia 70 tahun, harus terbiasa dalam budaya belajar seumur hidup dan merawat otaknya. Generasi yang terakses jaringan TI bisa lebih cepat dari orangtuanya merencanakan masa depan. Pandangan mereka sama sekali bertentangan dengan celoteh kaum tua di media massa atau suara sumbang yang menentang pembaruan. Ketika guru kolot yang baru belajar Facebook mengagung-agungkan Wikipedia, kaum muda sudah menjelajahi literatur terbaru di kampus Google.

Saat orang tua berpikir kuliah di fakultas tradisional (hukum, ekonomi, kedokteran), generasi baru mengeksploitasi ilmu masa depan (TI kreatif, manajemen ketel cerdas, atau perdapuran kreatif). Cita-citanya menjadi koki, perancang busana, atau profesi independen lain. Ketika geologiman generasi kertas menambang di perut bumi, mereka merancang robot-robot raksasa untuk menambang di meteor. Bila eksekutif tua rindu diterima di Harvard, generasi baru pilih The Culinary Institute of America.

Bahasa dan fisika

Sulit bagi generasi kertas menerima pendidikan yang integratif. Bagi kami, fisika dan bahasa adalah dua subyek terpisah, beda guru dan keahlian. Satu otak kiri, satunya otak kanan. Kita mengerti karena dibesarkan dalam rancang belajar elemen, bukan integratif. Dengan cara lama itu, bingkai berpikir kita bahasa diajarkan sarjana sastra, fisika diajarkan orang MIPA. Dari model sekolah itu wajar kebanyakan aktuaris kurang senyum, ilmunya sangat serius, matematika. Namun, saat meluncurkan program MM Aktuaria minggu lalu, saya bertemu direktur aktuaria sebuah perusahaan asuransi lulusan Kanada yang punya hobi melukis dan mudah senyum. Mengapa di sini orang pintar susah senyum?

Sewaktu mengambil program doktor, saya menyaksikan Gary Stanley Becker (Nobelis Ekonomi, 1992) menurunkan rumus matematika Teori Ekonomi Kawin-Cerai dengan bahasa yang indah. Mendengarkan kuliahnya, saya bisa melihat dengan jelas mengapa pertumbuhan ekonomi yang tinggi bisa membuat keluarga-keluarga Indonesia berevolusi menjadi orangtua tunggal.

Rendahnya komunikasi dan pengambilan putusan dalam pen- didikan dasar jelas akan membu- at generasi baru kesulitan meraih pintu masa depannya. Di Jepang, seorang kandidat doktor asal Indonesia digugurkan komite penguji bukan karena kurang pandai, melainkan buruk bahasanya. Ia hanya pakai bahasa jari dengan kalimat ”from this, and then this …, this…, this…, and proof”. Waktu saya tanya, para penguji berkata, ”Sahabatku, tanpa bahasa yang baik, orang ini tak bisa ke mana-mana. Ia harus belajar berbahasa kembali.”

Tanpa kemampuan integratif, kemampuan kuantitatif, anak- anak pintar Indonesia tak akan mencapai impiannya. Jadi, kurikulum mutlak harus diperbaiki. Jangan hanya ngomel atau saling menyalahkan. Ini saat mengawal perubahan. Namun, catatan saya, Indonesia butuh life skills, yakni keterampilan melihat multiperspektif untuk menjaga persatuan dalam keberagaman, assertiveness untuk buang sifat agresif, dan asal omong dalam berdemokrasi. Indonesia butuh mental yang tumbuh, jiwa positif memulai cara-cara baru, keterampilan berpikir kritis melawan mitos, dan metode pengajaran yang menyemangati, bukan budaya menghukum dan bikin bingung.

Inilah saat guru dan orangtua berubah. Dimulai dari kesadaran, dunia baru beda dengan dunia kita. Cara berpikir kita harus bisa mengawal anak-anak jadi pemenang di akhir abad XXI dengan rentang usia jauh lebih panjang.

RHENALD KASALI, Guru Besar FE UI

Sumber:

http://edukasi.kompas.com/read/2013/02/07/10280942/

Sekolah yang ‘Di-Blacklist’ untuk SNMPTN Dipublikasikan Saja

JAKARTA, KOMPAS.com – Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Hamid Muhammad mengharapkan nama-nama sekolah yang masuk daftar hitam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2013 dipublikasikan. Menurutnya, publikasi menjadi bentuk sanksi atas kecurangan yang dilakukan.

“Harusnya dipublikasikan. Itu bisa jadi pembelajaran bahwa yang namanya curang itu tidak dibenarkan dalam bentuk apapun,” kata Hamid di Gedung D Kemdikbud, Jakarta, Rabu (6/2/2013).

Ia juga mengungkapkan bahwa pihak yang memegang data sekolah yang dilarang untuk mengikuti SNMPTN tersebut adalah perguruan tinggi yang bersangkutan. Meski pendidikan menengah berada di bawah pengawasannya, namun untuk masalah daftar hitam SNMPTN ini bukan menjadi wewenangnya.

“Yang mengetahui ya masing-masing perguruan tinggi tersebut. Keputusannya itu juga otonomi perguruan tinggi tersebut,” jelas Hamid.

Menurutnya, hal ini sudah disosialisasikan berulang kali SNMPTN akan dilaksanakan. Untuk itu, sekolah atau siswa sebaiknya jangan bermain-main untuk berbuat curang atau melanggar karena perguruan tinggi dan panitia SNMPTN tak akan bisa memberikan toleransi apapun.

“Itu masalah otonomi perguruan tinggi. Itu hak memberikan sanksi. Kalau belum pernah disosialisasikan ya sudah. Tapi ini sudah disosialisasikan,” tegas Hamid.

Namun sekali lagi, ia mengucapkan bahwa publikasi nama sekolah ini dinilai perlu. Pasalnya, orang tua siswa saat ini juga perlu tahu apakah sekolah tempat anaknya bersekolah atau yang menjadi sasaran untuk bersekolah adalah sekolah yang masuk daftar hitam atau tidak.

“Orang tua saya rasa perlu tahu. Kasihan juga orang tua yang ingin agar anaknya bisa memperoleh pendidikan baik,” tandasnya.

Seperti diketahui, salah satu sekolah yaitu SMA Negeri 84 Jakarta dibenarkan tidak dapat mengikuti SNMPTN 2013 lantaran ada siswa yang diketahui berbuat curang. Dinas Pendidikan DKI Jakarta juga membenarkan hal tersebut dan meminta keringanan agar anak-anak yang lain tetap boleh ikut karena penyebabnya hanya satu oknum saja.

Sumber:

http://edukasi.kompas.com/read/2013/02/07/1312579/

Bentuk Karakter Siswa, Mata Pelajaran Agama Ditambah

Mulai Juli mendatang, penambahan jam mata pelajaran agama dari dua jam menjadi empat jam akan diberlakukan. Penambahan jam pelajaran agama diterapkan bersamaan dengan implementasi Kurikulum 2013.

“Implementasi tambahan jam pelajaran agama untuk meningkatkan karakter anak didik. Namanya pun berubah menjadi ‘Pendidikan Agama dan Budi Pekerti’,” kata Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Ibnu Hamad, Senin (28/1/2013).

Ibnu menjelaskan penambahan jam pelajaran agama merupakan hasil penilaian masyarakat yang memandang bahwa karakter atau budi pekerti siswa saat ini memprihatinkan karena terlibat tawuran. Karena itu, kata dia masyarakat meminta pendidikan agama perlu ditingkatkan sebagai sarana pembentukan karakter dan budi pekerti.

Sementara itu, pengamat pendidikan, Suparman, menilai penambahan jumlah jam mata pelajaran agama sangat relevan dengan semangat kurikulum 2013. “Kompetensi inti pertama dalam kurikulum 2013 adalah semangat religius maka saya kira relevan sekali penambahan jam agama,” kata Suparman.

Akan tetapi, lanjut Suparman,  bertambahnya jam tatap muka mata pelajaran agama tersebut harus mengutamakan implementasi kemuliaan akhlak oleh anak didik dalam kehidupan sehari-hari. “Bukan hanya sekedar hafalan nilai-nilai saja. Misalkan anak mempraktekkan semangat gotong royong untuk kebersihan lingkungan sebagai wujud dari keimanan,” ujarnya.

Menurut Suparman proses pendidikan tidak bisa dilihat hasilnya secara instan. Perlu waktu untuk melihat hasil pembentukkan karakter melalui pendidikan, baik pendidikan agama maupun pendidikan yang lainnya.

“Tentu semua pihak harus yakin bahwa akan ada perbaikan karakter pasca perubahan proses pendidikan misalnya dengan adanya penambahan jam belajar,” kata Suparman.[wan]

Sumber: republika.co.id

Sekolah Harus Penuhi Pendidikan Agama Siswa

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta sekolah wajib memenuhi hak anak memperoleh pendidikan agama sesuai keyakinannya.

“Bagian dari hak anak yang harus dilindungi adalah hak agama dan hak pendidikan agama. Ini adalah amanah konsitusi,” kata Komisioner Bidang Agama dan Budaya KPAI Asrorun Ni’am Sholeh di Jakarta, Sabtu (19/1/2013).

Ni’am mengemukakan hal itu terkait dengan adanya lembaga pendidikan di Blitar, Jawa Timur, yakni SMAK Diponegoro, STM Katolik, TK Santa Maria, SD Katolik Santa Maria, SD Katolik, dan SMP Yos Sudarso yang tidak bersedia memberikan pendidikan agama bagi siswanya yang beragama Islam.

Ni’am mengatakan bahwa layanan pendidikan agama sesuai dengan agama peserta didik oleh pendidik yang seagama merupakan bagian dari hak dasar yang tidak bisa direnggut, sekalipun sekolah memiliki afiliasi terhadap agama tertentu.

“Jika memang tidak mau menyediakan pendidik yang seagama dengan peserta didik, jangan menerima peserta didik yang berbeda agama. Ini semata-mata untuk memenuhi dan menjamin hak dasar anak,” kata Ni’am.

Dikatakannya, Pasal 12 Ayat (1) UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas menegaskan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.

“Ini jelas. Pengabaian terhadap hak agama anak jelas pelanggaraan dan negara bisa melakukan langkah-langkah untuk melakukan penertiban,” katanya.

Ni’am mengatakan bahwa sekolah apapun di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia harus patuh pada konstitusi dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Banyak sekolah yang sudah memenuhi hak pendidikan agama bagi anak yang berbeda agama dengan afiliasi agama sekolah, seperti sekolah-sekolah Muhammadiyah di Nusa Tenggara Timur yang menyediakan pendidik Kristen bagi siswanya yang yang Kristen,” katanya.

KPAI meminta pemerintah tegas menjamin hak pendidikan agama anak. Pemerintah harus memantau dan menjamin hak agama dan pendidikan agama anak, termasuk dengan penyediaan pendidik jika sekolah yang bersangkutan tidak mampu.

“Karena kasus serupa cukup banyak,” katanya.[wan]

Sumber: Antara

4 Pelajaran Penting dari Belajar di Eropa

JAKARTA, KOMPAS.com – Pergi ke negeri orang untuk belajar tentu memberikan kesan tersendiri bagi masing-masing orang. Ada empat pelajaran penting yang bisa diperoleh selama menjalaninya. Apa saja?

Mahasiswi semester 7 Swiss German University (SGU), Dwena Dexiana, mengungkapkannya setelah merampungkan program magang di Jerman beberapa waktu lalu. Keempat pelajaran penting yang diperolehnya selama jauh dari Tanah Air adalah betapa pentingnya waktu, keluarga, pengetahuan dan uang. Ia mengaku belajar banyak dari pengalamannya selama tinggal di Jerman selama enam bulan tersebut.

“Waktu. Saat sudah di sana jangan pernah sia-siakan kesempatan yang ada. Bekerja keras dan belajar bahasa yang ada agar bisa bersosialisasi lebih baik karena kita nggak tau kapan bisa ke sana lagi,” kata Dwena saat acara pelepasan adik-adik kelasnya untuk magang di Jerman dalam acara “SGU Goes to Europe” di Usmar Ismail Hall, Kuningan, Jakarta, Selasa (22/1/2013).

Kemudian yang kedua adalah arti pentingnya keluarga. Ia mengaku selama bulan pertama di Jerman, dirinya banyak menangis karena kangen dengan keluarga dan suasana rumah. Namun hal itu sedikit terobati saat dirinya mulai sibuk dengan pekerjaan dan bersosialisasi.

“Kalau biasanya di rumah suka ngerasa kurang privasi karena diawasi orang tua terus. Saat di sana bener kerasa banget kangennya. Apalagi kalau pas sakit, bener-bener sendiri dan nggak ada tempat bergantung,” ujar Dwena.

Hal ketiga yang penting adalah pengetahuan. Ia menyarankan selama berada di Eropa sebaiknya gali banyak ilmu yang ada di sana. Jika sempat berkunjung ke perpustakaan atau ke toko buku, maka baca buku yang menarik minat tapi sulit didapat di Indonesia.

“Jangan sampe nyesel balik ke Indonesia nggak dapet apa-apa. Di sana gudangnya ilmu pengetahuan, jadi banyak cari tahu,” jelas Dwena.

Hal terakhir yang penting adalah uang. Memang benar saat magang tersebut, para peserta magang mendapat honor dari perusahaan. Namun bukan berarti bisa berfoya-foya dan lupa untuk menabung karena berpikir tetap akan kembali lagi ke Indonesia setelah program selesai.

“Gunakan uang seperlunya. Kalau dapat honor, sisihkan sebagian. Pengalaman saya, karena mikirnya dapet honor. Ya udah seneng-seneng aja. Eh ternyata ada masalah jadi gaji nggak turun tiga bulan. Jadinya tiga bulan itu ngirit banget. Mau minta uang ke orang tua gengsi juga,” ungkap Dwena.

Kurikulum 2013, Nasib Ribuan Guru Bersertifikasi Di Ujung Tanduk?

Ilustrasi guru mengajar di daerah terpencil, doc kompas.comKurikulum 2013 akan diberlakukan pada tahun ajaran baru mulai bulan Juli 2013. Banyak guru yang mengkhawatirkan pemberlakuan kurikulum ini. Kenapa para guru menjadi kebingungan dengan pemberlakuan kurikulum 2013 ini? Akan kiata ulas pada tulisan di blog ini.

Sebelum kurikulum 2013, diberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pada kurikulum ini untuk SD ada 10mata pelajaran, yaitu Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Matematika, Pendidikan Jasmani dan Olahraga Kesehatan (PJOK), Kesenian, Mulok (ada satu), dan Bahasa Inggris. Sedangkan untuk SMP ada 12 mata pelajaran seperti pada SD namun ditambah mata pelajaran Mulok (ada dua) dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Mata pelajaran SD pada kurikulum 2013 menjadi 6 mata pelajaran, yaitu Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, matematika, PPKn, PJOK, dan Seni Budaya. Bahasa Inggris di SD dapat dijadikan sebagai ekstrakurikuler. Untuk mata pelajaran di SMP yang diajarkan adalah Pendidikan Agama, Pancasila dan Kewarganegaraan (PKn), Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Seni Budaya, Muatan Lokal (Mulok), Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes), dan Prakarya.

Pada kurikulum 2013 beberapa mata pelajaran di SD dan SMP dihapus. Mata pelajaran yang dihapus di SD adalah IPA, IPS, Bahasa Inggris, dan Mulok. Sedangkan mata pelajaran di SMP yang dihapus adalah TIK. Mata pelajaran IPA dan IPS di SD diintegrasikan ke mata pelajaran lain. Pengintegrasian IPA dan IPS ini dapat ke mata pelajaran misal bahasa Indonesia, PJOK, PPKn, dan mata pelajaran lain sesuai dengan materi yang dibahas. Sedangkan TIK tidak lagi diajarkan di SMP sebagai mata pelajaran dengan alasan bahwa TIK adalah teknologi sebagai sarana untuk belajar pada mata pelajaran yang lain.

Meskipun berkurang mata pelajarannya, namun jumlah jam di SD bertambah. Untuk SD kelas 1 dari 26 jam menjadi 30 jam per minggu. Untuk kelas 2 SD dari 27 jam menjadi 32 jam per minggu. Untuk kelas 3 SD dari 28 jam menjadi 34 jam per minggu. Sedangkan untuk kelas 4, 5, dan 6 dari 32 jam menjadi 36 jam per minggu. Durasi per jam pelajaran adalah 35 menit.

Banyak ribuan guru IPA, IPS, dan TIK di SD dan SMP bingung dan khawatir dengan pemberlakuan kurikulum 2013 ini. Lalu dikemanakan guru-guru tadi? Apa lagi jika mereka sudah bersertifikasi. Seorang guru yang sudah bersertifikasi harus mengajar setidaknya 24 jam tegak pada bidangnya atau boleh mengajar mata pelajar yang serumpun dengan aturan tertentu.Guru bisa mengajar tidak 24 jam tegak namun memiliki tugas lain yang diakui sebagai jam beban kerja sesuai dengan atruran tertentu.

Sebelum pemberlakuan kurikulum 2013 saja banyak guru bersertifikasi yang kekurangan jam pada satuan kerjanya. Mereka harus bersaing dengan guru lain untuk mencari kekurangan jam sehingga menjadi 24 jam. Selain harus mencari ke sekolah lain, beberapa sekolah mempunyai trik lain misal yang semula dalam satu kelas jumlah siswanya empat puluhan kemudian disebarkan sehingga dalam satu kelas hanya tiga puluhan siswa. Misal semula dalam satu tingkatan ada 5 kelas menjadi 6 kelas. Ini untuk mengakali supaya guru-guru yang bersertifikasi bisa mengantongi 24 jam dalam seminggu.

Jika pada kurikulum 2013 mata pelajaran IPA dan IPS di SD dihapus dan diintegrasikan ke pelajaran lain berarti guru yang mengajar IPA dan IPS harus ke mana? Apa lagi jika guru-guru tersebut sudah bersertifikasi. Di SD selain guru kelas, beberapa SD juga sudah ada guru mata pelajaran IPA dan IPS yang mengajar di kelas 4, 5, dan 6.

Untuk guru TIK di SMP yang sudah bersertifikasi juga dikemanakan? Ini yang membuat bingung para guru. Jika guru-guru TIK tersebut di sekolah negeri dan sudah PNS mungkin tidak begitu bingung, karena masih ada gaji yang mereka terima meskipun tunjangan sertifikasi tidak dapat. Namun jika guru-guru tersebut di sekolah swasta, apakah harus dipecat? Bagaimana juga dengan nasib guru honor yang mengajar mata pelajaran tersebut? Mereka juga mempunyai keluarga, mereka harus menghidupi istri/suami dan anak-anaknya.

Kebingungan guru-guru bersertifikasi bertambah mana kala beberapa jam mengajar pada mata pelajaran tertentu dikurangi. Misal mata pelajaran matematika dan Bahasa Indonesia yang semula 6 jam menjadi 5 jam. Mata pelajaran IPS yang semula 6 jam menjadi 4 jam.

Selain membuat bingung dan pusing pada guru TIK, ternyata jam mengajar pada SMP ada yang ditambah. Untuk mata pelajaran Pendidikan Agama dan PKn dari semula 2 jam menjadi 3 jam per minggu. Mata pelajaran Penjaskes dan Seni Budaya dari semula 2 menjadi 3 jam per minggu. Total ada 38 jam pelajaran per minggu di SMP. Durasi per jam untuk SMP 40 menit.

Apapun kebijakan pemerintah dalam pendidikan seharusnya tidak merugikan murid dan guru. Bagaimanapun guru adalah pahlawan yang sudah mengabdikan dirinya untuk kemajuan bangsa ini. Tanpa adanya guru mustahil bangsa ini bisa maju. Di tangan gurulah para pemimpin bangsa ini dididik. Seharusnya ada solusi yang terbaik bagi guru-guru yang mata pelajarannya dihapus dan jamnya dikurangi. Jangan sampai pemerintah membuat kebijakan “lempar batu sembunyi tangan”.

Sumber:

http://edukasi.kompas.com/