Menguak Catatan Ibnu Batutah tentang Nusantara

http://cdn.klimg.com/dream.co.id/resources/news/2014/11/18/7387/664xauto-menguak-catatan-ibnu-batutah-tentang-nusantara-141118p.jpg
Ibnu Batutah merupakan penjelajah dunia yang pernah singgah ke Nusantara. Pada abad ke-14, pria Maroko itu mampir ke Pasai, kesultanan di wilayah utara Sumatra yang telah memeluk Islam.

Dream – Ibnu Batutah merupakan penjelajah dunia yang pernah singgah ke Nusantara. Pada abad ke-14, pria Maroko itu mampir ke Pasai, kesultanan di wilayah utara Sumatra yang telah memeluk Islam. Batutah pun membuat catatan bagaimana kehidupan di negeri tersebut.

Buku The Indonesia Reader, History, Culture, Politics, -dengan editor Tineke Hellwig dan Eric Tagliacozzo– menulis bahwa Ibnu Batutah melaporkan kehidupan masyarakat Muslim di utara Sumatera itu dalam catatan hariannya.

Batutah menulis Sumatra dengan nama Jawa. Karena saat itu yang terkenal di kalangan saudagar dunia adalah menyan jawi. Namun yang dimaksud Batutah adalah Sumatera. Pulau di mana Pasai berada.

Dalam catatan itu, Ibnu Batutah sampai di pesisir Pasai setelah menempuh perjalanan laut selama 25 hari dari India. “Pulau itu hijau dan subur,” tulis Batutah sebagaimana dikutip Dream dari buku The Indonesia Reader, History, Culture, Politics, Selasa 18 November 2014.

Dia menulis tanaman yang banyak tumbuh di Pasai adalah pohon kelapa, pinang, cengkeh, gaharu India, pohon nangka, mangga, jambu, jeruk manis, dan tebu. Batutah juga menulis tumbuhan aromatik yang terkenal di penjuru dunia hanya tumbuh di daerah ini –dulu memang terdapat komoditas tumbuhan aromatik yang dihasilkan di daerah Barus.

Saat sampai di pelabuhan, masyarakat setempat menyambut Batutah dan rombongan dengan ramah. Rakyat di sana datang dengan membawa kelapa pisang, mangga, dan ikan, untuk ditukarkan dengan barang lain yang dibawa pedagang yang singgah.

Menurut Batutah, perwakilan dari panglima kesultanan juga mendatangi rombongannya. Pejabat itu menanyakan maksud kedatangan mereka. Setelah itu, rombongan Ibnu Batutah diizinkan mendarat di pantai. “Lantas kami menuju ke daratan ke pelabuhan, sebuah kampung besar di pantai dengan sejumlah rumah, yang disebut Sarha.” Menurut catatan Batutah, perkampungan itu berjarak sekitar empat mil dari kota raja.

Batutah juga mencatat bahwa Sultan Pasai, al-Malik az-Zahir, sangat ramah. Rombongan itu diterima dengan tangan terbuka. Bahkan, sang sultan meminjamkan salah satu kudanya –dan kuda lainnya– untuk rombongan Batutah yang singgah itu. “Saya dan teman-teman saya berkuda, dan kami menunggang kuda ke kota raja, kota Sumatra, sebuah kota yang besar dan indah dilengkapi dengan dinding kayu dan menara kayu.”

Dalam catatan itu, Batutah juga terkesan dengan keyakinan Sultan al-Malik az-Zahir. Selain terbuka, Sultan juga pecinta teologi. Sultan merupakan penganut Islam yang taat dan memerangi segala perompakan. Sultan juga memberikan perlindungan kepada kaum non-muslim yang membayar ajak kepada kesultanan.

Selain tegas, Sultan al-Malik juga digambarkan sebagai orang yang rendah hati, “yang berjalan kaki saat menuju tempat salat Jumat.”

Saat menuju istana, Batutah melihat sejumlah tombak tertancap di kanan-kiri jalan, di dekat gerbang. Itu tandanya, siapapun tak boleh lewat. Siapa saja yang menunggang kuda juga harus turun. Sehingga Batutah dan rombongannya harus turun dari kuda mereka.

Saat di pendapa istana, rombongan Batutah disambut salah satu letnan kesultanan yang ramah. Sang letnan menyambut mereka dengan berjabat tangan. “Kami duduk bersama dia dan dia menulis surat kepada Sultan untuk menginformasikan kedatangan kami.”

Setelah jamuan makan, sang letnan mengajak rombongan Batutah berjalan-jalan di taman berpagar kayu. Di bagian tengah dibangun sebuah rumah kayu dan berkarpet. “Kami duduk di sini bersama letnan.”

Setelah itu, datanglah pejabat kesultanan, amir Dawlasa, dengan membawa dua pelayan perempuan dan dua laki-laki dan berkata, “Sultan mengatakan kepadamu bahwa persembahan ini sebanding dengan hartanya, tidak seperti Sultan Muhammad [Sultan India]”. Setelah itu, sang letnan meninggalkan mereka, rombongan mereka beralih menjadi tanggung jawab amir Dawlasa.

Kebetulan, Ibnu Batutah sudah kenal dengan amir Dawlasa, sebab pernah menghadap Sultan Delhi bersama-sama. Ibnu Batutah pun bertanya, kapan Sultan Pasai bisa menemui rombongannya. Dan amir Dawlasa pun menjawab, “Ini adat negeri kami bahwa pendatang baru menungu tiga malam sebelum menghadap ke Sultan, mungkin dia [tamu] sudah pulih dari kelelahan selama dalam perjalanan.”

Batutah dan rombongan pun akhirnya bertemu dengan Sultan al-Malik az-Zahir pada hari Jumat. Mereka bertemu dan berbincang di sebuah masjid setelah salat Jumat. Sultan meminta Batutah menceritakan kabar Sultan Muhammad di India.

Setelah pertemuan itu, Sultan al-Malik pun meninggalkan masjid. “Saat meninggalkan masjid, dia [Sultan] disediakan gajah dan sederetan kuda. Adat mereka, Sultan menunggang gajah, pengiring dan wakil menunggang kuda.” Namun saat kunjungan Batutah itu, Sultan lebih memilih menunggang kuda bersama tamunya ini.

Batutah berada di Pasai selama 15 hari. Tibalah saatnya mereka berpamitan. Rombongan ini tak bisa meneruskan perjalanan ke China karena kondisi cuaca yang buruk. Batutah dan rombongan pun berpamitan kepada Sultan.

“Dia [Sultan] menyediakan perahu untuk kami, mengantar kami, dan memberi bekal banyak kepada kami. Semoga Tuhan membalas dia!”