Perjanjian antara Tuhan dengan hamba-Nya

Assalammua’laikum Wr. Wb.

Pada kesempatan saat ini kami akan membahas ayat Al-qur’an yang sayang jika dilewatkan. Ayat-ayat ini berisi tentang perjanjian sakral yang kita buat antara Tuhan dan hamba-Nya. Yuk, simak artikel ini.

Tahukah kalian, bahwa pada saat kita masih berada di alam ruh kita telah berjanji kepada Allah Swt. untuk mengabdi kepada-Nya? Kita bersaksi bahwa Allah Swt adalah Tuhan kita. Sebelum kita bahas lebih lanjut mari kita simak salah satu ayat Al-Qur’an berikut.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (Q.S. Al-baqarah : 172)

Berdasarkan ayat ini kita harus mengetahui bahwa ruh kita, telah melakukan janji yang sangat penting dan menjadi bukti pertanggung jawaban di dunia pada saat nanti di padang mahsyar. Hal ini bertujuan untuk mencegah orang-orang yang lalai terhadap Allah Swt yang pasti akan mengeluarkan beribu alasan ketika dimintai pertanggung jawaban atas yang dia lakukan di dunia, seperti pada kalimat terakhir dalam ayat di atas. Ini juga membuktikan bahwa dalam keadaan apapun kita harus mengabdi kepada Allah Swt. karena tiap-tiap manusia yang ada di dunia ini diberikan potensi dan kesempatan yang sama untuk mendapat keridhaan-Nya. Pengibaratan hal ini seperti misalkan, seorang pekerja yang melakukan perjanjian kontrak kepada bossnya untuk bekerja di sebuah perusahaan selama satu tahun. Maka ketika pekerja tersebut bekerja tidak sesuai dengan kontraknya, misalkan pekerja hanya mampu bekerja selama 6 bulan, si pekerja tersebut harus mendapat konsekuensinya. Pekerja tersebut tidak dapat mengelak karena perjanjian sudah dirampungkan. Begitu pula dengan janji kita terhadap Tuhannya, kita sudah tidak mengelak lagi jika nanti sudah di padang mahsyar.

Namun mungkin setelah mengetahui ayat ini, kita akan bertanya-tanya. Mengapa manusia di dunia tidak bisa mengingat hal penting ini sedikitpun? Sebelum penjelasan, mari kita simak lagi ayat Al-qur’an di bawah berikut.

”Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (Q.S. An-Nahl : 78)

Ternyata, kita dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui apapun termasuk perjanjian penting tadi. Karena hakikatnya yang melaksanakan perjanjian adalah ruh kita, bukan jasad kita yang memiliki akal yang dapat mengingat perjanjian ini sehingga kita tidak mengetahui apapun yang terjadi sebelum ruh kita ditiupkan ke perut ibu kita. Biasanya ruh kita akan merespon jika kita melakukan suatu kebathilan, contohnya saat menyontek, hati kita pasti akan bergetar karena khawatir ketahuan gurunya. Memang ruh itu tidak dapat merekam perjanjian ini, namun ruh dapat merespon ketika kita melakukan kebathilan, kecuali kalau imannya sudah rusak. Karena itu pula Allah memberi kita pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kita bersyukur. Sangat merugilah orang-orang yang tidak mengoptimalkan potensi yang diberikan Tuhan untuk mengetahui janji ini. Sudah diberi penglihatan dia tidak sempat membaca Al-qur’an, diberi pendengaran dia tidak sempat mendengarkan lantunan Al-qur’an, diberi hati dia tidak sempat memahami ayat Al-qur’an.

Maka orang-orang yang tidak sempat memahami ayat-ayat ini melalui Al-qur’an ataupun artikel ini akan menyesal kelak di akhirat. Nah, supaya tidak termasuk orang-orang yang merugi stay tune aja di blog ini, kita Insya Allah akan membahas ayat-ayat lain yang pastinya akan dibahas lebih seru dalam blog ini.

Salam Ukhuwah

Wassalammua’laikum Wr. Wb